Mengarungi Beringin Kembar di Alun-alun Kidul Yogyakarta

by
Alun-alun Kidul Yogyakarta

Anda ingin jalan-jalan ke Jogja, tapi bingung mau ke mana? Sudah pernah ke Alun-alun Kidul? Kalau belum, Anda harus ke sana. Banyak sekali cerita yang akan kalian dapatkan setelah mengunjungi tempat ini. Alun-alun merupakan suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput, dikelilingi oleh jalan, dan dapat digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan masyarakat. Pada dasarnya, alun-alun merupakan halaman depan rumah, tetapi dengan ukuran yang lebih besar. Pemilik alun-alun biasanya sekaligus menjadi pemilik istana, yaitu raja, bupati, atau penguasa daerah tersebut.

Alun-alun selatan Yogyakarta, atau lebih dikenal dengan nama Alun-alun Kidul yang kemudian disingkat menjadi ‘Alkid’, diyakini sebagai tempat istirahat (palereman) bagi para dewa. Itulah mengapa saat ini banyak orang yang pergi ke alun-alun untuk sekedar duduk sembari menikmati suasana senja atau malam di alun-alun, tidak lain demi ngleremke ati atau menentramkan hati.

Pada masa lalu, Alkid banyak digunakan untuk acara-acara tertentu seperti latihan ketangkasan para prajurit Keraton, serta kegiatan lain seperti Setonan (latihan ketangkasan berkuda), Manahan (lomba memanah dengan panah tradisional, dilakukan dengan posisi duduk bersila), Rampok Macan (lomba adu harimau), serta Masangin (latihan konsentrasi dengan cara berjalan di antara dua pohon beringin – biasa disebut ringin kurung – yang berada di tengah alun-alun).

Saat ini, sudah tidak ada lagi prajurit Keraton yang mengasah ketangkasannya di tempat ini. Tradisi yang masih tersisa hingga saat ini hanyalah Masangin, biasanya dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung ke Alkid. Ada banyak cerita mengenai kebiasaan tersebut, tetapi yang paling terkenal ialah jika seseorang mampu berjalan di antara beringin kembar secara lurus, maka permohonannya akan terkabul. Berani coba? Cukup sediakan Rp 5000 untuk menyewa kain penutup mata dan rasakan sensasi berjalan dengan mata tertutup sambil mengarungi beringin kembar. Konon, hanya orang berhati bersih yang dapat melewatinya.

Pada waktu-waktu tertentu, pihak Keraton menyelenggarakan pagelaran wayang kulit di Sasono Hinggil Dwi Abad yang terletak di sebelah utara Alkid. Selain itu, kalian juga dapat menyaksikan kesibukan para prajurit Keraton ketika mempersiapkan perayaan Grebeg. Para prajurit biasanya juga berlatih dan melakukan gladi bersih perayaan Grebeg di Alun-alun kidul.

Menjelang sore, Alkid biasanya mulai ramai dikunjungi. Pria wanita, tua muda, semua merasa bahagia ketika berada di sana. Kalau masa liburan tiba, Alkid akan tampak lebih ramai dibandingkan biasanya. Bagi kalian yang mengunjungi Alkid bersama adik atau keponakan, ada beberapa permainan yang disewakan di sana. Sebut saja becak mini, sepeda tandem, atau odong-odong. Untuk harga sewanya, bisa ditawar dengan pemilik. Yang jelas, jangan ragu untuk menawar.

Setelah puas berkeliling alun-alun dan menikmati permainan, waktunya mengembalikan tenaga yang hilang.  Kalian bisa menikmati jajanan khas Yogyakarta, seperti wedang ronde, wedang bajigur, jagung bakar, dan jajanan lainnya. Kalau ingin makanan yang lebih ‘berat’, jajaran tenda lontong sayur dan gerobak angkringan siap memanjakan perut kalian. Tenang saja, harga makanan dan jajanan di sana cukup terjangkau.

Bagaimana, siap berangkat ke Alun-alun kidul Yogyakarta? Lokasi Alkid mudah dijangkau, karena terletak di selatan Keraton Kasultanan Ngayogyakarta yang merupakan jantung kota Yogyakarta. Kalau kalian berada di Malioboro, silakan mencari andong atau becak, dan kalian akan tiba di alkid dalam waktu 15 menit. Kalian bisa memilih jalur timur sembari melewati pusat gudeg di Wijilan, atau jalur barat dengan pemandangan Tamansari dan Pasar Ngasem. Kalau kalian ingin naik kendaraan umum, kalian bisa naik bus kota jalur 5, kemudian turun di Plengkung Gading. Setelah itu, berjalanlah ke utara selama 5 menit, dan alun-alun kidul sudah menanti untuk dijelajahi.