Sejarah Rumah Adat Toraja yang Perlu Diketahui

by

Ngetren.co.id – Budaya Toraja, Masyarakat Toraja memang dikenal masih memegang teguh adat dan budaya, salah satunya tongkonan. Tongkonan merupakan rumah adat yang terbuat dari kayu uru. Pohon uru memang banyak tumbuh di Sulawesi.

Instagram.com/upphay_motoaja

Bagian Tongkonan yang paling terlihat mencolok adalah atapnya yang berbentuk seperti perahu. Ini menjadi pengingat orang Toraja, bahwa leluhur mereka menggunakan perahu untuk sampai di Sulawesi.

Baca Juga: Ini Ngehits Destinasi Wisata Toraja

Kemudian di atas rumah biasanya akan terpasang patung kepala kerbau. Ada 3 warna kerbau mulai putih, hitam dan belang atau biasa disebut bule. Di beberapa tongkonan terdapat patung tambahan berupa kepala ayam atau naga. Ini menjadi tanda bahwa si pemilik rumah adalah yang dituakan di tempat itu.

Papan dengan susunan tanduk kerbau terpasang di depan tongkonan. Bukan hanya itu, dereten gigi babi juga berderet rapi di atas rumah. Inilah status sosial orang Toraja.

Bayangkan saja, satu kerbau hitam akan diberikan harga Rp 60 juta per ekor. Itu baru yang hitam. Kalau kerbau belang atau bule harganya mulai Rp 600 juta sampai Rp 1 miliar per ekor. Wow!

Instagram.com/upphay_motoaja

Dikelilingi dengan deretan simbol di dinding rumah, ini memperjelas status sosial si empunya tongkonan. Ukiran kepala kerbau juga tak boleh ketinggalan menghiasi tongkonan beserta simbol lainnya.

Baca Juga: Mengenal Adat Pernikahan Suku Toraja

Tongkonan juga memiliki nama lho! Nama tongkonan diberikan atas saran ketua adat dan penelusuran dari pasangan nama tersebut sebelum dibangun. Sehingga tongkonan selalu memiliki pasangan, walaupun tak satu desa.

Pada saat pembangunan tongkonan akan diadakan pesta meriah. Setiap keluarga yang datang akan membawa babi hias.

Babi yang paling cantik akan menjadi pemenang dan diingat sepanjang sejarah. Di depan tongkonan dibangun alang atau lumbung. Alang memiliki lambang ukiran ayam dan matahari di atas bangunan.

Ini adalah lambang kemakmuran orang Toraja. Hampir sama dengan kepala kerbau, ini adalah lambang kelimpahan orang Toraja.

Baca Juga: Sejarah dan Asal Usul Toraja yang Perlu Dipahami

Tak hanya satu, alang juga biasanya dibangun sesuai dengan jumlah keturunan. Sang pemilik akan meletakkan padi-padi yang masih bertangkai di dalam alang. Uniknya, kadang alang juga jadi tempat penyimpanan barang berharga.

Tongkonan dan alang dibangun berhadapan sesuai dengan arah utara dan selatan. Kedua bangunan ini berperan sebagai pengganti orang tua.

Instagram.com/upphay_motoaja

Tongkonan diibaratkan sebagai ibu yang melindungi anak-anaknya yaitu orang Toraja. Sedangakan alang yang adalah lumbung adalah ayah yang menjadi tulang punggung.

Zaman dulu, bagian bawah tongkonan dibuat menjadi kandang kerbau. Itu kenapa bentuk tongkonan seperti panggung. Kayu yang terpasang vertikal bisa dibuka dan berfungsi sebagai pagar kandang.

Sampai saat ini tongkonan tetap menjadi pegangan hidup masyarakat Toraja.

Sebagai pengingat dan budaya nenek moyang, tongkonan etap menjadi idola. Selain sarat makna, rumah ini juga sangat instagenic dan jadi magnet bagi para turis untuk datang ke Toraja. Jangan mau kalah sama wisman, yuk ke Toraja!